MENINGKATKAN PENGETAHUAN AKAN PERANAN TOKOH BPUPKI MELALUI MATA UANG RESMI NEGARA
Belajar tentang sejarah bagi peserta didik
merupakan aktivitas yang membosankan. Belajar tentang masa lalu tidak
memberikan tantangan kepada akal pikiran peserta didik untuk melakukan inovasi. Belajar tentang masa
lalu hanya akan memberikan kebijaksanaan dalam berperilaku sehari-hari. Padahal
bagi peserta didik, kebijaksanaan dapat
diperoleh dari pengalaman hidup secara langsung. Oleh karena itu, membangkitkan
semangat belajar kepada peserta didik untuk menyukai sejarah bukan persoalan
yang mudah, perlu upaya keras dari guru
untuk mendorong dan membangkitkan semangat peserta didik.
Upaya untuk mendorong semangat peserta
didik untuk belajarpun harus disesuaikan dengan usia mereka. Pada usia SMP yang memasuki masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa
dewasa dapat dilakukan dengan menampilkan penokohan dari Guru. Guru harus menjadi model yang baik bagi peserta
didik. Sehingga guru dapat di percaya dan menjadi contoh baik bagi peserta
didik. Selain itu, peserta didik mulai dapat di ajak bicara secara terbuka
tentang suatu persoalan. Masa puberitas, membuat siswa SMP mulai berpikir
kritis terhadap keadaan. Peserta didik mulai menyukai hal-hal yang riil
sifatnya. Usia SMP mulai gelisah terhadap hal-hal yang dianggap tidak nalar
atau tidak logis. Oleh karena itu jiwa berontak peserta didik terhadap keadaan sekeliling
sudah mulai nampak. Ketidak sukaan mereka terhadap sesuatu mulai ditunjukan
oleh peserta didik dengan cara malas belajar, malas berbicara, suka protes dan
mempertanyakan hal yang diluar logika peserta didik.
Peserta didik pada SMP Negeri 1 Kota Bogor
mengalami hal yang serupa. Sebagian peserta didik terlihat kurang tertarik untuk belajar sejarah
masa lalu. Peserta didik lebih menyukai hal-hal yang bersifat logis dan
matematis. Penyebab dari kondisi tersebut disebabkan oleh karena model pembelajaran
yang digunakan guru dalam memberikan pemahaman kepada peserta didik tentang
sejarah dengan menggunakan metode yang biasa. Seperti ceramah, presentasi dan
simulasi.
Selain metode, hal lain yang menjadi
penyebab kebosanan peserta didik adalah
karena lingkungan belajar yang kurang mendukung seperti kurangnya sumber
belajar, kurang pandainya guru dalam menampilkan media pembelajaran, tidak
siapnya materi dan sebagainya. Selain itu, materi yang berbau sejarah sudah dipelajari peserta
didik sejak Sekolah Dasar (SD) dan tidak terlalu memberikan perubahan yang besar
terhadap sejarah.
Kondisi di atas memberikan tantangan
tersendiri kepada guru untuk melakukan terobosan baru atau inovasi dalam
memberikan pembelajaran. Salah satunya adalah dengan menggunakan collaboration
project dengan sekolah Byrla Public School, India. Kami bersepakat
untuk melakukan sebuah kelas kolaborasi antara SMP Negeri 1 Kota Bogor dengan
kelas di Byrla Public School. Setelah kami berdiskusi kami bersepakat
untuk mengangkat tema mata uang negara
masing-masing.
Uang sangat umum berada ditangan
anak-anak, akan tetapi mengertikah mereka bahwa di dalam mata uang ada
simbol-simbol sejarah dan budaya bangsa yang menjadi ikon untuk mata uang
tersebut. Untuk itu, kami membawa peserta didik untuk mempelajari tokoh bangsa
yang potonya dijadikan sebagai lambang dalam mata uang tertentu. Peserta didik
diminta untuk mencari informasi menggenai tokoh tersebut dan mencari keunikan
tokoh tersebut. Hasilnya, dibuat dalam bentuk Powerpoint.
Selain itu, melalui collaboration
project, mereka di ajak untuk berpetualang dengan dunia baru yang belum
pernah mereka temukan. Mereka di ajak untuk bertukar informasi, bercerita,
bercanda bahkan bisa saling bertukar mata uang sebagai kenangan. Dengan collaboration
project juga mereka bisa bersosialisasi lebih luas dengan rekan se-usia mereka
di negara lain.
Ada beberapa manfaat yang bisa diraih
siswa dengan melakukan collaboration project ini, diantaranya adalah :
1. Meningkatkan
Kepercayaan diri siswa
Setiap siswa memiliki kepercayaan diri
yang berbeda. Ada yang sudah terbiasa dari SD melakukan kolaborasi dengan
rekannya ada juga yang belum. Melalui projek ini siswa diminta untuk mengenali
satu sama lain karakteristik rekannya yang berbeda-beda. Dengan karakteristik
yang berbeda peserta didik belajar untuk menghadapi berbagai persoalan yang
timbul, sehingga terbiasa untuk menghadapinya. tumbuhlah kepercayaan diri peserta
didik untuk bekerjasama dengan temennya yang berbeda dan menghargai
karakteristik yang berbeda tersebut.
2. Meningkatkan
kemampuan Bahasa Inggris
Kemampuan setiap anak dalam berbicara
dengan menggunakan Bahasa Inggris berbeda-beda. Ada yang sudah lancar dalam
berbicara bahasa Inggris, tapi banyak pula yang belum lancar. Mereka diminta untuk
berbicara bahasa Inggris karena Bahasa yang digunakan sebagai alat komunikasi
adalah Bahasa Inggris. Hal ini mendorong peserta didik untuk mempelajari Bahasa
Inggris lebih dalam dan belajar cara pengucapan yang benar. Peserta didik juga
dilatih untuk menimpali permasalahan yang dipertanyakan dengan menggunakan
Bahasa Inggris. Secara tidak langsung kemampuan Bahasa Inggris peserta didik
meningkat.
3. Meningkatkan
kreatifitas
Dalam projek kolaborasi ini, kelas akan di
bagi kedalam beberapa grup kecil yang terdiri dari 5-6 orang. setiap grup
diminta untuk membuat kreatifitas dalam bentuk presentasi power point
yang bagus. Peserta didik diminta untuk menamplkan program power point
yang menarik, bermakna dan mudah dipelajari. Peserta didik dapat mempelajari materi
tersebut melalui browsing internet, sehingga kemampuan dan kreatifitas peserta didik meningkat
4. Meningkatkan
pengetahuan
Melalui kolaborasi ini peserta didik diminta menggali informasi tambahan berkaitan
dengan biografi dari tokoh-tokoh pahlawan yang tercantum dalam mata uang.
Sehingga secara tidak langsung peserta didik mempelajari materi yang lebih baik
dari temannya yang lain yang mempelajari materi yang sama. Peserta didik akan
melakukan browsing internet mencari pengetahuan yang berhubungan dengan tokoh
pahlawan yang ada dalam mata uang tersebut.
5. Meningkatkan
jiwa leadership
Melalui projek ini, peserta didik dituntut untuk bertanggung jawab dengan
tugasnya masing-masing. Apabila ada anggota grup yang tidak mengerjakan maka
hal tersebut akan berdampak kepada anggota
kelompok lainya. Melalui tanggung jawab tersebut peserta didik akan berusaha untuk melaksanakanya. Artinya
ada satu jiwa kepemimpinan yang tertanam dalam diri mereka yaitu
bertangggungjawab dengan tugas sendiri untuk membantu rekannya dalam kelompok.
Melalui
program kolaborasi Projek ini, niat penulis ingin memberikan pengalaman yang
baru bagi peserta didik akhirnya terpenuhi.
Peserta didik menjadi semangat belajar, bertanggung jawab dengan dirinya
sendiri dan mampu memahami materi dengan baik. Peserta didik memiliki pengetahuan lebih jauh tentang materi
peranan tokoh-tokoh pahlawan yang
dijadikan sebagi ikon mata uang pada masing-masing mata uang yang dipelajari. Hasilnya
bahkan lebih dari yang diharapkan. Peserta didik memperoleh informasi berkaitan dengan tokoh
pahlawan yang dijadikan sebagai ikon mata uang negara lain.
Harapan penulis, Semoga model ini dapat menjadi salah satu cara kita untuk mengatasi masalah semangat
peserta didik belajar sejarah sehingga mereka menjadi pribadi-pribadi yang
diharapkan bangsa di masa mendatang. Generasi milenial yang cinta akan
bangsanya karena memahami dan menghormati jasa-jasa pahlawannya.
penulis : Asep Saepudin, S.Pd
SMP Negeri 1 Kota Bogor
Wah mantap ni pak metodenya. Memang btl yang bapak bilang. Kalo anak-anak kita jaman sekarang ni malas btl bljr sejarah. Smg dg metode ini mereka semua melek lagi ya pak akan pelajaran sejarah
ReplyDeleteBetul bu kita harus kerja keras agar anak mau belajar sejarah
ReplyDelete