MENJENGUK MATAHARIKU DI PESANTREN TAHFIZ

 



Tanpa terasa dua tahun sudah anakku di pesantren ini. Sejak Pandemi menyerang, aku dan istriku memutuskan untuk menitipkan anak kedua kami di pesantren Tahfiz ini. Ini semua karena rasa prustasi kami terhadap system Pendidikan yang tidak jua memberikan kesempatan pada anak untuk merasakan pembelajaran secara offline atau masuk seperti biasa. Aku lihat anakku di rumah hanya main game saja pekerjaannya. Akhirnya kubawa ke sebuah pesantren yang tetap masuk walaupun pemerintah melarang. Ya inilah, pesantren Tahfiz. Dan besok adalah giliran kami menengoknya.

Malam sebelum hari H kami sudah berkemas untuk membeli barang-barang yang dipesannya. Sabun mandi 10, pepsoden 3, sikat gigi 1, rinso untuk kebutuhan satu bulan dan juga tidak lupa makanan-makanan kecil. Tanpa terasa habis sudah 300 ribuan hanya untuk memenuhi kebutuhan anak kami selama sebulan saja. Setelah beres barulah kami pack dengan kardus dan di kraft dengan lakban

Jam 4 kami bangun pagi lalu solat tahajud dan solat subuh seperti biasa. Setelah solat subuh lalu kami pun mengaji sampai beberapa lembar. Setelah itu aku mengajak keluargaku untuk lari pagi mengelilingi kompleks perumahan tetangga sebelah. Lumayan segar setelah berlari beberapa putaran. Fresh rasanya.

Kami kemudian mandi pagi dan bersiap untuk berangkat menuju ke pesantren anakku yang no 2 yaitu pesantren tahfiz. Kami bersiap di mobil, tiba-tiba anakku no 1 bilang ingin membawa mobilnya. Aku sedikit ragu karena dia masih belum terbiasa.

“ yakin kamu bsa Bib? “ tanyaku

“Iyah coba aja yah” , jawabnya

“Tapi di jalan aja yah” pintaku

“Nggak ayah, dari rumah aja, supaya Aa biasa!” pintanya dengan tulus

Aku tatap matanya, rasa tidak tega menyeruak ke dalam dadaku, aku harus berani kataku, lalu kuberikan kunci mobilku padanya. Lalu secara perlahan dia keluarkan mobilnya. Agak kesusahan tapi kemudian dia berhasil keluar.  Alhamdulillah,  gumamku tanpa ketahuan anakku, karena takut dia melihat kehawatiranku.

Kami jalan menuju ke pesantren tahfiz lewat jalan utama, rupanya anakku membawa mobilnya dengan mulus, lumayan nyaman. Akupun merebahkan diriku di kursi tengah. Nyaman rasanya terbebas dari bawa mobil. Begini rasanya yah di bawa orang lain, gak harus berstres ria karena melihat kemacetan dan harus menghindari sepeda motor yang menyalip. nikmaaaattt rasanya, kataku dalam hati.

“Yah, enak ga labib bawa mobilnya?” tanya anakku mengagetkanku dari lamunanku.

“Iyah bib enak”. Jawabku singkat

“Terlalu cepat apa lambat ya …yah?” tanya dia lagi

“Nggak ..bib, ini sudah enak ko ga cepat ga lambat juga. “ jawabku

“Oh, gituh, takutnya labib kecepetan atau kelambatan yah.” jawab dia sambil Kembali asyik masuk dengan aktifitasnya

Tidak berapa lama kamipun sampai ke pesantern Tahfiz, kami langsung menuju ke pintu gerbang dan kulihat jagoanku sedan bergerombol dengan teman-temannya. Melihat kami datang, dia pun lari memburu. Betapa senang melihat matanya yang berbinar, senyumnya yang merekah, wajhnya yang putih bercahaya. Dia berlari dan langsung kami ciumi keningnya.

“Assalamualaikum adek, gimana sehat kamu nak?” tanyaku

“Sehat ayah, alhamdulillah.” Jawabnya singkat

“Syukurlah.” kataku.

Dia kemudian masuk ke dalam mobilku, dan langsung mengajakku ke rumah makan dekat pesantrennya yaitu rumah makan Puncak, istilahnya. Rumah makan itu bukan berada di puncak tapi ada di dalam perumahan dan berada di lantai 2. Bebek goreng kesukaanya. Kami langsung pesan 5 porsi bebek goreng, sesuai dengan jumlah kami. Dan anak-anakku pesan minumnya es buah. Kami asyiik ngobrol kesana kemari. Asiik banget rasanya bicara dengan anakku yang lama gak ketemu.

“Dek, kamu sekarang udah berapa Juz hapalan qur’annya?” tanyaku di tengah obrolan kami.

“Udah 10 juz yah” jawabnya enteng

“Alhamdulillah, kamu yang semangat yah, kan katanya mau ke Mesir, kamu harus selesaikan dulu hapalannya yah! ” pintaku

Sebagai informasi, pesantern ini memang khusus mengajarkan hapalan al-quran dalam kesehariannya, disamping belajar juga materi lainnya. Tapi alquran menjadi pelajaran utamanya. Anak-anak harus menghapalkan seccara mutqin artinya dihapalkan diluar kepala. Jadi agak lama memang semoga Allah memberikan kemudahan bagi anakku sehingga dia dengan mudah mengahapalkanya. Aamiin yra.

Setelah makan, kami lalu Kembali asyik dengan aktifitas kami masing-masing. Aku asyiik ngetik karangan ini, istriku asyiik dengan HP nya karena lagi ada yang diurus setelah rekan kerjanya meninggal. Sedangkan anak-anakku sibuk bermain games dan nonton film youtube. Sampai akhirnya Zuhurpun tiba kami berlari Kembali ke mobil untuk menuju masjid menjalankan sholat ibadah Juhur berjamaah.

Setelah shalat Juhur kami Kembali ke mobil dan akua jak mereka untuk indomaret untk membeli makanan. Mereka senang, mereka ambil makan yang mereka mau dan kemudian membayarnya dikasir. Anakku yang di pesantren membeli buah segar yang sudah dikupas, yogurt, susu dan kezu. Setelah dia racik adik dan kakaknya mencicipi dan rasanya lumayan enak.

Lama kami mengobrol . rasanya waktu begitu cepat bergulir, tahu tahu sudah ashar Kembali. Saatnya buat kami untuk pamit setelah shalat ashar. Saya sangat Bahagia sekali hari ini karena ada dua pelajaran yang aku dapat kan pada hari ini yaitu: belajar mempercayai anak Ketika anak minta bawa mobil sendiri dan yang kedua belajar kesabaran yang ditunjukan oleh anakku yang no 2. Dia harus berjuang untuk menghapalkan quran walaupun berat tapi dia lakukan secara bertahap. Itu sudah merupakan hal yang luar biasa buatku. Terimakasih anak-anakku, terima kasih matahariku

Comments

  1. Maa sya Allah anak -anak Soleh Solehah

    ReplyDelete
  2. Masyaallah calon ahli2 surga.. Semangat menulis pak..

    ReplyDelete
  3. siap bu ovi dan bu yandri, minta doanya aja yah semoga anak saya sehat dan manjadi seorang yang berguna bagi masayarakat

    ReplyDelete

Post a Comment