PENGALAMAN KULIAHKU (PART 2)
Aktivitas organisasi lebih banyak dilakukan di hari sabtu dengan berdiskusi tentang suatu permasalahan yang sedang trend saat itu. Di awal masuk Fodim, aku lebih banyak jadi peserta pasif saja, hanya menjadi pendengar setia dari para seniorku yang jago berargumentasi. Aku kagum sekali pada mereka. Kadang aku berpikir ingin seperti mereka, begitu gampang mereka mengungkapkan argumentasi saat berdiskusi. Setelah tahun kedua aku baru mulai berani untuk bertanya, memberikan pendapat walaupun masih terbata-bata. Tapi akhirnya aku cukup bisa untuk mengungkapkan pemikiranku saat itu.
Keberaniaku
untuk bertanya dan berpendapat akhirnya menjalar ke proses perkuliahan. Aku
juga cukup berani untuk menentang dan berpendapat saat diskusi di ruang kuliah.
Sampai akhirnya beberapa teman
mempercayakanku untuk menjadi pembicara saat diskusi perkelompok.
Puncak
karir organisasiku terjadi saat tahun ke-empat. Aku didapuk oleh rekan-rekan untuk
menjadi ketua umum Forum Diskusi Mahasiswa (Fodim), keren kan hehe... Aku takut
sekaligus bangga karena akhirnya aku bisa menjadi seorang ketua organisasi
keren ini. Banyak koran kampus yang mulai mewawancaraiku. Tentang kesuksesanku
dalam berorganisasi dan juga menyoroti permasalahan yang trend saat itu.
Satu
pengalaman yang sangat berbekas di benakku adalah saat aku menjadi ketua
Presidium persidangan pertanggungjawaban ketua Senat Mahasiswa kampus IKIP
Jakarta. Aku sedikit hawatir karena saat itu pertentangan antara kubu yang pro
dan kontra dengan kepemimpinan senat saat itu begitu tinggi. Mereka sangat
berharap agar aku bisa menyelesaikan konflik yang terjadi.
Kelompok
pro sangat berharap agar aku bisa menerima pertanggungjawaban dari ketua senat
saat itu, Kelompok pro yang terdiri dari kaum militant agama sangat kuat
berargumentasi, mereka menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh ketua senat
tersebut sudah mewadahi berbagai aspirasi dari mahasiswa.
kelompok
kontra yang dimotori koran kampus atau Didaktika sangat kuat juga untuk menolak
pertanggungjawaban tersebut, karena menganggap bahwa selama masa
kepemimpinannya, dia kurang memberikan ruang dan perhatian kepada seluruh
kelompok mahasiswa akan tetapi hanya kepada kelompok organisasi keagamaan saja.
Akhirnya
aku putuskan untuk menerima pertangungjawaban ketua senat tersebut tapi dengan
kewajiban permohonan maaf dari mantan ketua senat tersebut kepada mahasiswa
karena telah bekerja kurang maksimal dan kurang memberikan ruang kepada seluruh
kelompok mahasiswa. Permohonan maaf tersebut wajib dilakukan di pamplet atau
koran kampus. Alhamdulilah keputusan tersebut diterima semua pihak. Leganya
hatiku.
Kegiatan
Fodim waktu kepemimpinanku kurang bergairah, karena ada friksi diantara
anggotanya yang membuat mereka bekerja kurang maksimal. Aku sudah berusaha
semampuku menjembatani semuanya tapi ternyata gak berhasil karena pengaruh
organisasi luar yang begitu kuat yaitu HMI DIPO dan MPO sebutan saat itu. Anggota
Fodim banyak yang aktif di kedua organisasi tersebut. Sehingga ruang gerak
diskusi ilmiah kurang berjalan. Aku hanya menjalankan programku semampuku
sampai akhir masa jabatanku.
Aku
lulus dari IKIP Jakarta agak terlambat yaitu tahun 1998. Aku kuliah jadi agak
lama yaitu 5 tahun 6 bulan. Aku wisuda pada bulan April 1998. Ada satu insiden
yang sangat membekas diingatanku saat persidangan Skripsiku. Konflik terjadi
antara aku dan pembimbingku. Aku sangat menyadari kalau aku salah sehingga aku
hanya terdiam saat skripsiku ditelanjangi habis-habisan olehnya. Karena ketidak
puasan pembimbingku tersebut terhadap proses sebelum persidangan.
Aku
sempat terancam tidak lulus karena beliau tidak menyetujui skripsiku. Aku
berontak, aku protes, karena aku ingin segera lulus. Akhirnya pembimbingku
memberikan syarat padaku agar memperoleh tanda tangan dari pembimbing satu
terlebih dahulu dan beliau mau menandatangani kalau pembimbing satu sudah
menandatangani. Dengan cara culas akupun berbohong kepada pembimbing 1 bahwa
pembimbing 2 sudah periksa dan tidak mempersoalkan, sehingga beliau mau
menandatangani Skripsiku. Maka pembimbing 2 pun mau menandatangani tapi dengan
ancaman supaya saya bersiap-siap di persidangan.

Jika salah, kita diam. Setuju, Pak Asep👍🏻 Tetap semangat💪
ReplyDeleteTeman sekolah dan teman di tempat tinggal mang banyak perbedaan ,yah teman kuliah banyak memorinya
ReplyDelete