PENGALAMAN KULIAHKU (PART 3 HABIS)

 


    Pada Saat hari persidangan skripsi tiba, perasaanku sangat tidak menentu. Ada rasa percaya diri tapi manakala teringat  Kembali ancaman dosen pembimbingku, aku merasa tidak punya harapan, kepercayaan diriku hilang. Entah apa yang akan terjadi di persidangan nanti. Aku sangat cemas menanti hal tersebut. Dunia rasanya mau runtuh menimpa kepalaku. Aku duduk di pojok ruang kuliah dengan cemas menunggu giliranku tiba.

“Asep saepudin denggan NIM 901456, silahkan menuju ke ruang sidang!” panggilan itu serasa menggelegar terdengar di telingaku. Masih jelas rasanya hingga saat ini. Aku bergegas beridiri dan setengah berlari menuju ke ruang siding itu. Aku buka perlahan dan ku ucapkan salam, “assalamualaikum” ucapku. “walaikumsalam” ucap dosen penguji yang ada di ruangan itu. Sambil mempersilahkanku untuk duduk di depan. Kulihat sekeliling ruangan yang gak terlalu besar. Berjejer rapi meja penguji berhadapan dengan mejaku. Ada  sekitar 6 dosen penguji. Di tengah-tengah kulihat Ibu Dekan FPIPS yaitu ibu Prof Dr. Delima. kemudian disamping nya ada pembantu Dekan 1 dan pembantu Dekan 2, disampingnya lagi sebelah kiri ada Ketua jurusan PPKN kemudian disusul oleh pembimbing 1 dan pembimbing 2.

“Silahkan asep presentasikan skripsi kamu paling lambat 15 menit setelah itu kita tanya jawab” ucap Ibu Dekan terdengar sangat lembut namun sangat berwibawa. “Baik Bu” jawabku. Lalu dengan percaya diri aku ungkapkan presentasiku, dengan lancar memaparkan skripsiku. 15 menit berlalu, rasanya cepat sekali waktu berlalu, sedangkan aku belum selesai mengungkapkan semua skripsiku.

Semua penguji secara bergantian mempertanyakan isi skripsiku, dan ku jawab dengan lancar sampai akhirnya habis pertanyaan. Saat ibu Dekan hendak mengetuk palu pertanda  akan menutup persidangan tiba-tiba Pembimbing kedua ku yang dari awal tidak bicara sama sekali akhirnya mengacungkan tangan dan memohon ijin untuk bertanya. Beliau kemudian melontarkan pertanyaan kepadaku, aku jawab pertanyaannya sesuai pengetahuanku, lalu dia membantahnya dan menganggap jawaban ku salah. Dia kemudian bertanya lagi pertanyaan kedua Kembali saya jawab dan dia Kembali bilang salah dan membantahnya, dan ketiga kalinya dia Kembali bertanya dan kemudian saya jawab dan beliau Kembali bilang salah.

Pembimbingku langsung mengeluarkan buku-buku referensi yang begitu banyak. Dengan angkernya, dia mengemukakan kesalahan-kesalahanku, sampai akhirnya kelemahan skripsiku terbongkar. Aku lemas dibuatnya. Sampai aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain pasrah. Ketua sidang kebingungan, pembimbing keduaku tidak bertanggungjawab terhadap isi Skripsiku. Akupun lemas keluar ruang sidang dengan muka ditekuk. Dengan tertunduk lesu aku duduk di pojokan sambil melamun, karena membayangkan kalau aku gak akan lulus tahun itu.

Aku menangis tertahan, aku malu dilihat orang lain kalau aku menangis, padahal rasanya ingin sekali aku tumpahkan rasa yang menggelora di dalam dada ini. Aku hanya diam seribu Bahasa, tidak mau ngobrol dengan siapapun saat itu, sampaia saat pengumumanpun tiba.

Aku Bersama dengan teman-teman senasibku masuk Kembali ke ruang siding. Aku mendengarkan penjelasan dari ibu dekan berkaitan dengan hasil persidangan,. Banyak masukan yang berharga saat itu. Tapi aku tidak terlalu konsentrasi. Yang ada di otakku saat itu hanya ingin lulus, itu  saja. Satu persatu nama kami dipanggil. Ada yang menangis Bahagia tapi ada juga yang menangis karena penyesalan.  

Perasaannku semakin tidak karuan. Tibalah saat namaku dipanggil lalu ibu dekan menyalamiku sebagai tanda aku lulus dengan nilai B. Alhamdulillah walaupun nilaiku B tapi yang penting aku lulus. Akupun bersujud mengucap syukur. Aku terbebas dari beban yang sangat berat yaitu mengulang Kembali skrpsiku. Aku salami semua pengujiku termasuk pembimbing kedua ku yang bersalaman denganku masih dengan muka yang masam.

Hatiku lega akhirnya usahaku tidak sia sia, aku ingin sekali mengabarkan berita gembira tersebut kepada kedua orang tuaku. Karena beliau pasti akan sangat bersuka cita akan kelulusanku. Terima kasih kepada dosenku yang telah membimbingku dengan penuh perhatian dan kerja kerasnya. Sehingga  akhirnya aku bisa menjadi Sarjana walaupun agak terlambat.  Alhamdulillah

 Saat yang dinantipun tiba, hari wisudaku di kampus IKIP Jakarta. Situasinya saat itu memang tidak menguntungkan, dalam keadaan tidak menentu. System politik nasional sedang kacau. Negara mengalami kemunduran secara ekonomi dengan sangat tajam, sampai akhirnya berakibat pada tergulingnya kekuasaan Orde Baru saat itu. Tapi, kondisi saat itu tidak membuat wisuda gagal, tapi tetap berlangsung dengan hidmat. Orangtuaku mengantarkanku dan melihatku di wisuda bersama dengan beberapa teman sisa se-angkatanku. Aku berpelukan dengan kedua orang tuaku. Kusalami mereka dan kuciumi kedua tangan mereka sebagai tanda baktiku kapada mereka. Aku bangga menjadi anak Kamp Z yang menjadi seorang Sarjana.   

 

Comments

  1. alhamdulillah, ternya kita satu kampus di IKIP Jakarta, sekarang namanya UNJ, hehehe

    ReplyDelete

Post a Comment