PENGALAMAN PERTAMAKU KE LUAR NEGERI

 



Aku mengajar di SMP Negeri 1 Kota Bogor.  Sebuah sekolah tertua dan terbaik di kota Bogor. Pada masa penjajahan Belanda sekolah ini bernama MULO lalu  berdiri secara resmi menjadi SMP Negeri 1 Kota Bogor tahun 1949 sampai sekarang. Karena letaknya yang strategis sekolah ini menjadi incaran masyarakat Bogor. Tidak mengherankan, kalau sekolah ini (walaupun tidak begitu luas hanya 3600 m2) menjadi sekolah terbaik karena input nya bagus, sehingga guru-gurupun tertantang untuk memiliki kualitas yang baik juga. Pada tahun 2006, aku resmi  diangkat sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) di sekolah tersebut.

Pada tahun pertama, kepala sekolah mempercayakanku sebagai wali kelas sekaligus sebagai salah satu Pembina Osis. Di tahun awal tidak ada yang terlalu istimewa, semua berjalan seperti biasa. Hanya masalah materi yang menjadi problem utamaku saat itu. Gajiku hanya 800 ribu rupiah sedangkan  Aku sudah terlanjur membeli rumah dengan cicilan sebesar 500 ribu rupiah perbulan, sehingga gaji tersisa hanya 300 ribu untuk sebulan, sangat tidak cukup. Oleh karena itu, aku putar otakku, bagaimana caranya bisa bertahan. akupun berjualan sayuran, kue dan juga aqua di sekolah. Selain itu,  Istriku membantu ekonomi keluarga dengan mengajar di sebuah sekolah swasta dengan gaji 250 ribu sebulan.

Tahun kedua mulai terasa perubahan, dengan statusku sebagai Pegawai Negeri Sipil penuh dengan gajiku saat itu sebesar 1,5 juta rupiah. Status  sekolahku juga berubah, sebagai sekolah terbaik dipercaya untuk menjadi  Sekolah Rintisan  Bertaraf Internasional (RSBI). Setiap guru penghasilannya bertambah sesuai dengan kemampuan Bahasa Inggrisnya. Gajiku sendiri dari sekolah ditambah 2,5 juta sehingga semua menjadi 4 juta rupiah. Alhamdulillah, cukup untuk kebutuhanku selama sebulan.

Di tahun ke-empat adalah masa ke-emasan buatku, karena mulai saat itu sekolah mempercayakanku sebagai Wakasek bidang Hubungan Internasional dan menjadi gerbang utama dalam menjalin hubungan dengan sekolah di luar negeri. Sebagai sekolah RSBI, kita harus memiliki Sister School sebagai cirinya. Aku mencoba membangun kerjasama dengan sekolah di Malaysia yaitu SMK Aminudin Baki, Kuala Lumpur. Sebelumnya, pimpinan sekolah pernah berkunjung ke sekolah tersebut tapi tidak ada yang mem- Follow up kerjasamanya. Akhirnya kami coba  menghubungi dan kami bersepakat untuk mempererat tali silaturahmi dengan berbagai kegiatan.

Tahun berikutnya saya mencoba mengajukan untuk melakukan pertukaran pelajar ke SMK Aminudin Baki. Ternyata mereka setuju dan siap menerima delegasi dari SMP Negeri 1 kota Bogor. Berdasarkan hal tersebut kami mencoba menseleksi siswa mana yang akan dikirim. Saat itu pembiayaan masih menggunakan dana sekolah. Kami pilih 10 orang siswa berprestasi dengan dua orang guru yaitu saya sendiri dengan satu guru Bahasa Inggris.

Persiapan demi persiapan kami lakukan. Mulai dari persiapan Bahasa inggris, persiapan pertukaran budaya dengan mempelajari tarian dan nyanyian daerah sampai ke persiapan penyampaian informasi alam Indonesia melalui Power Point Presentation. Semua kami lakukan dengan sebaik mungkin karena kami akan membawa nama baik sekolah juga nama baik bangsa Indonesia.

Hari pemberangkatanpun tiba, kami berkumpul di sekolah pada jam 3 pagi, semua delegasi yang terdiri dari 10 siswa 2 orang guru dan satu orang komite bersiap untuk berangkat. Semua orang tua mengantarkan kami sampai ke  bandara. Disana kami berpoto Bersama sebelum berpamitan.

“Baiklah bapak Ibu semuanya mohon doanya, kami berangkat sekarang,” ujarku kepada orang tua yang menggantarkan.

“iyah pak asep, hati-hati yah semogga sukses dan Kembali ke Indonesia dengan selamat.” Kata salah satu orang tua.

“ Amiin yaa robbal Aalamiin.” balasku

Kamipun masuk dalam jalur check-in di Bandara, disana kami diperiksa karcis dan paspor masing-masing. Setelah itu kami harus melewati sebuah alat pendeteksi logam, untuk memastikan bahwa kami tidak membawa senjata atau apapun yang berbahaya. Lalu kami menuju tempat check-in luggage. Luggage kami satu persatu ditimbang karena gak boleh melebihi kapasitas yang diwajibkan yaitu 20 kg. setiap luggage dikenakan biaya tax sebesar  150 ribu saat itu perorang.

Setelah selesai kami langsung menuju ke arah custome yang memeriksa paspor kami dan memastikan poto kami dengan wajah kami. Proses ini dilakukan untuk mendeteksi apakah kami termasuk orang yang dicekal atau tidak untuk keluar negeri. Cukup lama kami menunggu, karena kami antri dalam satu antrian. Setelah melewati gerbang custome kami bisa relaxing sebentar dengan jalan-jalan seputar bandara karena disana banyak shop-shop keren yang menjual barang branded.

Setengah jam sebelum pemberangkatan kamipun masuk gerbang boarding gate. Disana kami Kembali diperika barang bawaan kami untuk ke kabin. Ada beberapa barang  yang dilarang dibawa diantaranya adalah :

1.     tidak boleh membawa barang lebih dari 5 kg dengan ukuran tas juga yang ditentukan

2.     Jumlah tas yang boleh dibawa hanya 2 buah

3.     Tidak boleh membawa cairan lebih dari 100 mil, apakah minuman ataupun minyak wangi

4.     tidak boleh membawa binatang peliharaan

5.     tidak  boleh membawa senjata tajam

6.     Dan sebagainya.

Setelah melalui itu semua, kami akhirnya menunggu di ruang boarding. Aku Bersama dengan rombongan dengan cemas menunggu waktu untuk boarding time. Waktunyapun tiba kami satu persatu masuk ke pesawat dengan memberikan tiket boarding ke penjaga dan kemudian ditunjukan tempat duduk oleh pramugari cantik yang bertugas.

            Sebelum lepas landas, Pramugari menyampaikan beberapa informasi berkaitan dengan hal yang harus diperhatikan selama penerbangan dan dalam kondisi bahaya. Hal tersebut membuatku tambah tegang. Pada saat lepas landas, aku tak henti hentinya berdoa dan membaca semua ayat alquran yang aku bisa, maklum penerbangan pertama, aku sangat tegang, sampai tidak peduli dengan sekeliling. Aku pejamkan mata dan memegang erat kursi penumpang, sangat menegangkan. 15 menit rasanya seperti berjam-jam. Aku terus membaca berulang ayat kursi, suratul fatihah dan surat surat lain yang aku hapal. Orang yang duduk disampingku memandangku dengan perasaan geli, mungkin lucu melihat tingkahku yang pucat pasi.

“ Baru pertama yah mas,” tanyanya.

“ Iyah.” jawabku singkat.

“ Tenang saja mas,  nanti juga sampai dengan selamat,” ujarnya.

“ iyah Mas’” jawabku sambil tersenyum pucat.

15 menit kemudian berbunyi bel yang menandakan boleh melepaskan seat belt dan boleh berjalan ke toilet. Keteganganku berkurang sedikit dan menoleh ke arah anak-anak. Mereka sedang asyik mendengarkan musik dan bermain game. Sepertinya tidak ada ketegangan di benak mereka. Akupun mulai rileks dan mulai memutar video untuk melepaskan ketegangan.

Perjalanan ke Malaysia kurang lebih membutuhkan waktu sekitar 1 jam 45 menit. Kami mendapatkan makan pagi berupa nasi lemak dan roti sebagai breakfast. Aku pun menikmati hiburan tersebut sambil tersenyum Ketika ada yang lucu dan terharu Ketika ada cerita sedih. Sedang asik menonton film, tiba-tiba pilot dan juga pramugari mulai memberikan peringatan bahwa 30 menit lagi pesawat akan mendarat. Sontak semua penumpang mengetatkan seatbelt. Akupun terkaget sambil buru-buru mengenak seatbelt. Kamipun Kembali tegang,  tapi tidak setegang saat lepas landas.

Aku Kembali memejamkan mata dan membaca semua ayat alquran yang aku hapal. Sedikit demi sedikit pesawat mulai menurunkan ketinggian. Jantungku berdegup keras, karena berdasarkan informasi yang pernah aku baca, kecelakaan banyak terjadi saat lepas landas dan saat landing. 15 menit rasanya seperti sepanjang hari, lama banet rasanya. Sampai akhirnya pesawat mendarat dengan mulus dilandasan. Aku sangat lega, seperti terbebas dari himpitan batu besar.

“sudah sampai Mas, Ayoo bersiap-siap Mas,” Ujar orang yang duduk disampingku, mengingatkanku agar aku bersiap untuk turun.

“ Baik Mas.” Ucapku

            Setelah sampai di bandara Malaysia kamipun berjalan menuju custome untuk Kembali diperiksa paspor kami. Setelah itu kami menuju ke gerbang luggage. Kami mengambil luggage kami satu persatu. Setelah terkumpul. Aku bariskan semua anak untuk keluar gate. Sebelum keluar gate, kami Kembali harus melalui proses pemeriksaan. Luggage besar harus kami masukan ke alat pemindai juga dengan tas kecil kami dan barang barang yang kami bawa. Setelah itu barulah sampai di gate keluar.

            Setelah sampai di gerbang , kami telah disambut oleh tuan rumah yang menyediakan sebuah bis untuk kami naiki dan pergi menuju ke hotel tempat kami istirahat. Kamipun beristirahat sebentar. 1 jam kemudian ketua komite menuju ke kamar saya, dia menyampaikan informasi kalau beliau dan saya harus survei lokasi sekarang juga karena beliau harus Kembali sore ini ke Jakarta. Akupun ikut beliau keliling Kualalumpur dimana beliau menyampaikan dengan detail apa saja transportasi yang harus kami naiki untuk mengeksplore Malaysia. Begitu banyak yang disampaikan sampai saya sendiri bingung apa yang harus aku lakukan. Ya sudah bismillah aja, gumamku. Yang penting bisa Bahasa dan bawa uang insyaallah aman.

            Hari ke dua sampai hari kelima kami habiskan waktunya di sekolah, kami sekolah mengikuti waktunya mereka sekolah. Kami belajar beberapa mapel. Kami juga perkenalkan Indonesia melalui powerponit yang sudah kami persiapkan. Kami coba ikut lomba bahasa inggris yang mereka adakah pada hari rabu karena Rabu adalah English Day sehingga semua siswa harus bicara Bahasa Inggris. Kami menyanyikan lagu daerah dan juga membawakan kesenian daerah yaitu Jaipong kepada mereka. Mereka sangat antusias dan senang dengan penampilan kami. Akhirnya sampai di hari penghujung dimana kami harus  berpisah. Anak anak menangisi perpisahan tersebut.rupanya kebersamaan yang sudah mereka jalin sangat membekas di benak mereka. Karena  mereka merasa telah dekat satu sama lain. Selamat tinggal Aminudin Baki.

            Hari ke enam sampai hari ke Delapan saatnya kami eksplorasi wisata  Malaysia. Ada keraguan di hatiku, apakah aku bisa membawa anak anak untuk mengeksplore wilayah Malaysia. Tapi dengan bismillah aku mulai berdiskusi dengan siswa. Karena kami datang benar benar tanpa persiapan, tanpa pengetahuan dan juga tanpa guide. Tidak diduga anak anak ternyata lebih cepat dalam belajar, mereka ambil map lalu mencari cara menuju ke tempat tempat wisata tertentu, akhirnya beberapa tempat kami kunjungi diantaranya kuala lumpur tower, KLJJ, Genting highland, China Town, Masjid Jamek dan lain-lain. Bahkan kami pulang sampai larut malam karena asik mengeksplore Malaysia

            ada satu cerita menarik Ketika kami mengunjungi Genting Highland. Kami telah bersiap karena transportasi ke sana hanya pukul 9 am. Kami sampai pukul 09.30. akhirnya kamipun terlambat. Lalu kami mencari cara dengan bertanya bagaimana cara menuju ke Genting Highland. Kami mendapatkan info bahwa kami membutuhkan beberapa kali naik transportasi, tidak apalah pikirku yang penting sampai sana. Akhirnya kami sampai ke Genting Highland. Karcisnya ternyata berbeda antara untuk siswa dan umum. Lalu kamipun sampaikan bahwa kami dari siswa Indonesia mau berkunjung ke tempat tersebut. Dan merekapun memberikan discount 50%, lumayan buat nambah beli souvenir.

            Itulah pengalaman pertama kali ke luar negeri naik pesawat, menegangkan, mendebarkan sekaligus menantang. Karena setelah itu aku menjadi ketagihan ingin naik pesawat lagi. lagi dan lagi. Sampai cerita ini menjadi permulaan dari cerita selanjutnya.semoga bisa menginspirasi pembaca  

Comments